Selamat datang di Desa Damai Berkelanjutan
Desa Getas yang terletak di wilayah Pegunungan Sumbing, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, merupakan salah satu desa mitra AMAN (Asian Muslim Action Network) Indonesia lewat program Desa Damai Berkelanjutan (DBB).
Desa Getas memiliki luas wilayah 815 hektar yang terbagi menjadi 9 dusun, yaitu Dusun Getas, Dusun Pringapus, Dusun Nglarangan, Dusun Kemiri, Dusun Krecek, Dusun Porot, Dusun Banyurip, Dusun Gletuk, Dusun Cendono. Jumlah populasi penduduknya sebanyak 4.405 jiwa. Jumlah laki-laki dan perempuan di Desa Getas terbilang cukup berimbang, laki-laki dengan jumlah 2.244 jiwa, dan perempuan sebanyak 2.161 jiwa.
Dalam hal keberagaman, menurut keterangan dari Bagus selaku kepala Dusun Pringapus, masyarakat Desa Getas memeluk berbagai macam agama serta kepercayaan yang berbeda. Masyarakat yang beragama Islam, Kristen, dan Budha hidup berdampingan secara rukun dan damai.
“Miniatur Indonesia, Kristen, Islam, dan Budha persentasenya hampir imbang, hidup berdampingan saling menghargai,” Ucapnya.
Tak ada mayoritas maupun minoritas dalam beragama di desa ini. Semuanya memiliki kesetaraan dalam berbagai macam kegiatan. Oleh karena keberagaman yang ada, Desa Getas kemudian dikenal sebagai miniatur Indonesia.
Sebagai miniatur Indonesia, Desa Getas memiliki sebuah tradisi unik yakni Nyadran Perdamaian yang melibatkan seluruh masyarakat lintas agama. Seluruh masyarakat berkumpul di pemakaman untuk mendoakan para leluhur dengan diiringi oleh doa lintas agama. Serta dilanjutkan dengan makan bersama dari hasil olahan masyarakat.
Menurut Yulius, Dusun Porot, keharmonisan antar umat beragama di Desa Getas sangat penting untuk dijaga dan dirawat oleh semua masyarakat. Mengingat semakin banyaknya kelompok intoleran yang muncul seiring perubahan zaman. Untuk mengembalikan dan menjaga pemahaman masyarakat, program DDB berperan penting sebagai kontrol untuk menjaga kerukunan serta kondusifitas antar masyarakat.
“Permasalahan ini menjadi penting untuk direspon oleh program DDB karena untuk mengembalikan pemahaman-pemahaman masyarakat terhadap indahnya keberagaman dan kebersamaan dalam gotong-royong,” Ucapnya.
Dalam hal pekerjaan, masyarakat desa dahulunya merupakan petani kopi. Namun, seiring masuknya berbagai macam industrialisasi di desa tersebut, banyak masyarakat terutama dari generasi muda yang memilih untuk bekerja sebagai buruh pabrik karena alasan penghasilan bulanan yang lebih jelas ketimbang menjadi petani kopi.
Pergeseran mata pencaharian warga ini, berdampak pada berbagai macam hal seperti terkikisnya waktu untuk berinteraksi, lahan kopi pegunungan yang terancam beralih fungsi, hingga peran perempuan yang terancam terpinggirkan.
Menurut keterangan dari fasilitator DDB Desa Getas, Priskila Indriati, dampak dari pergeseran profesi ini, lebih banyak dirasakan oleh perempuan. Dalam berbagai situasi, perempuan yang bekerja sebagai petani dan buruh pabrik seringkali terjebak pada tantangan triple burden, antara mengurus pekerjaan domestik, memeras keringat di kebun kopi, atau mengejar shift di pabrik, dan menghadapi ketimpangan gender dalam ranah pengambilan keputusan.
Menyikapi berbagai tantangan yang dihadapi oleh perempuan Desa Getas, Program Desa Damai Berkelanjutan (DBB) yang diinisiasi AMAN Indonesia sejak tahun 2024 ini menjadi sangat relevan bagi masyarakat terutama kelompok perempuan di Desa Getas.
Relevansi program DDB terletak pada penguatan kapasitas perempuan untuk memperkuat resiliensi akar rumput dengan pendekatan partisipatif dan inklusif. Melalui ruang-ruang perjumpaan hingga pada akhirnya dapat menjangkau kelompok paling jarang dilibatkan dalam proses pembangunan desa seperti perempuan petani maupun buruh pabrik yang semula terfragmentasi oleh jam kerja pabrik dan tantangan geografis alam pegunungan.
Sekolah Perempuan Perdamaian: Mendorong Kepemimpinan Inklusif
Keterlibatan perempuan dalam aspek kehidupan masyarakat Desa Getas berakar pada dua Sekolah Perempuan Perdamaian (SP) yang menjadi poros utama dalam pengorganisiran. Dua SP tersebut adalah SP Kartini di Dusun Porot yang berfokus pada perempuan petani kopi, dan SP Catur Manunggal di Dusun Krecek yang menjadi ruang belajar bagi perempuan pekerja.
Dalam perjalanannya, SP ini tentu saja menuai berbagai macam tantangan dan hambatan dari internal maupun eksternal. Di antara tantangan yang mesti dihadapi SP adalah sikap apatis dan minimnya respon dari pemerintah desa.
Menurut keterangan dari Priskila Indriati, sikap apatis dari kepala desa menjadi hambatan terbesar dalam berjannya program DDB. Sikap apatis seperti kurangnya respon serta sikap kepala desa yang pasif terhadap program DDB.
Selain sikap apatis dari kepala desa, hambatan berikutnya adalah budaya patriarki seperti minimnya keterlibatan perempuan dalam berbagai ruang-ruang musyawarah warga.
Hambatan yang lainnya adalah jarak antar dusun yang saling berjauhan. Kondisi ini membuat pengorganisiran masyarakat seringkali terkendala oleh jarak dan akses komunikasi yang sulit.
Serta kondisi mata pencaharian masyarakat yang terbagi menjadi petani kopi dan buruh pabrik menimbulkan tantangan tersendiri yakni sulitnya membagi waktu dalam pekerjaan.
Meskipun mengalami berbagai macam tantangan dan hambatan, SP tetap berjalan dengan tiga strategi untuk memitigasi berbagai macam tantangan dan hambatan. Adapun tiga strategi yang digunakan oleh SP adalah:
Pertama, mengambil peluang dukungan dari dusun. SP Kartini dan Catur Manunggal yang semula berfokus pada desa, kemudian beralih ke dusun karena melihat Kepala Dusun lebih suportif. Semula roda komunitas SP terhambat karena minimnya sumber daya, kini kegiatan SP bisa tetap berjalan dengan menggunakan fasilitas dari Dusun Porot dan Krecek.
Kedua, penyesuaian waktu yang fleksibel. SP dilakukan pada waktu sore atau malam, selepas jam pulang pabrik atau di luar musim panen kopi. Penentuan waktu yang menyesuaikan jadwal kegiatan ibu-ibu ini agar lebih banyak perempuan yang hadir dalam kegiatan SP. Sehingga, lebih banyak perempuan yang terlibat.
Ketiga, melakukan konsolidasi lintas dusun. Untuk mengatasi hambatan karena jarak antar dusun yang jauh, masyarakat yang terkumpul dalam jaringan Tim Tangguh mendatangi anggota yang terisolasi di daerah terpelosok dan sulit akses.
Strategi yang digunakan dalam pengorganisiran Sekolah Perempuan pada akhirnya membuahkan hasil. Meskipun pada awalnya mendapat berbagai macam tantangan dan hambatan, Sekolah Perempuan bisa mengubah peta sosial kekuatan masyarakat di Desa Getas. Masyarakat yang sebelumnya berjarak akibat perbedaan profesi dan agama, kini tak ada lagi sekat. Solidaritas organik antar masyarakat di delapan dusun di Desa Getas pun akhirnya terjalin.
Selain solidaritas antar warga yang semakin kuat, perempuan yang semula mengalami triple burden kini memiliki kepiawaian dalam melakukan pengorganisiran, memimpin forum diskusi, serta berani bersuara menolak berbagai macam ketidakadilan seperti ketimpangan upah dan kekerasan domestik.
Munculnya Partisipasi Perempuan Desa Getas
SP menjadi tonggak bagi keterlibatan perempuan di berbagai urusan publik masyarakat Desa Getas. Sekolah Perempuan memberikan dampak positif terutama bagi perempuan dan kelompok rentan. Perempuan yang semula jarang dilibatkan dalam forum desa dan pengambilan keputusan, kini mulai terlibat dalam kepengurusan kelompok dan forum pengambilan keputusan.
Hal ini berdampak pada perubahan pola pengambilan keputusan. Jika sebelumnya keterlibatan perempuan dalam forum musyawarah desa terpinggirkan, kini perempuan mulai mengambil peran dalam forum-forum pengambilan keputusan.
Menurut keterangan dari Fathur selaku Ketua Tim Tangguh Desa Getas bahwa, perubahan sosial yang terjadi di Desa Getas tentu saja tidak dapat terwujud dengan waktu dan proses yang instan. Diperlukan pendampingan secara konsisten serta partisipasi berbagai elemen masyarakat termasuk perempuan dan kelompok rentan dalam proses membangun kesadaran serta kepercayaan masyarakat.
Menurut Kirmi, Ketua Sekolah Perempuan, bahwa berjalannya program Sekolah Perempuan tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran fasilitator, peran perempuan dalam Tim Tangguh, serta kemauan dari kepala desa untuk memahami dan mengetahui kebutuhan desa lewat berbagai program yang dibutuhkan seperti DDB.
“Dalam kegiatan PRA dan Tim Tangguh melibatkan perempuan, bahkan dalam setiap bidang selalu ada perempuan,” Ucap Kirmi.
Keterlibatan perempuan merupakan faktor utama bagi terciptanya kehidupan yang harmoni dan damai bagi masyarakat Desa Getas yang plural. Lewat program DDB, masyarakat Desa Getas semakin solid dan menjaga serta memahami keberagaman yang ada. Kelompok rentan dan kelompok minoritas mulai merasakan kenyamanan dalam bermasyarakat.
Program DDB lewat Sekolah Perempuan merupakan instrumen yang sangat penting untuk memastikan partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam pembangunan desa.