Desa Damai Berkelanjutan adalah inisiatif untuk membangun desa yang berkelanjutan dan sejahtera melalui kemitraan yang kuat.

Selamat datang di Desa Damai Berkelanjutan

Kolaborasi Lintas Aktor dan Generasi Wujudkan Perdamaian Berkelanjutan di Desa Buntu

Kolaborasi Lintas Aktor dan Generasi Wujudkan Perdamaian Berkelanjutan di Desa Buntu

  • Cerita Perubahan
  • By Nur Solikhah
  • 18 June 2026

Desa Buntu merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada di lereng Gunung Sindoro dengan ketinggian 1.750 mdpl membuat suhu di desa berpenduduk sekitar 3.000 jiwa ini cukup dingin untuk ditinggali. Dengan kondisi wilayah pegunungan yang subur, mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani sayur, utamanya kentang, kol, dan wortel.


Desa Buntu sendiri dikenal sebagai "Miniatur Indonesia" dan meraih penghargaan sebagai rintisan desa Pancasila oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Wonosobo pada tahun 2024.. Toleransi warganya sangat tinggi; meskipun berbeda keyakinan, mereka dapat hidup rukun, bahkan dalam satu rumah bisa terdiri dari anggota keluarga yang berbeda agama. Perbedaan tersebut tidak memicu konflik, melainkan mempererat kerukunan warga. Di Desa Buntu terdapat empat agama yang hidup berdampingan, yaitu Islam, Katolik, Kristen, dan Buddha, dengan tempat ibadah yang dibangun saling berdekatan.


Kondisi yang damai di Desa Buntu tentu penting dirawat bersama oleh semua elemen masyarakat. Pada akhir tahun 2024, Desa Buntu menjadi salah satu dari 11 piloting program Desa Damai Berkelanjutan (DDB) yang didukung AMAN Indonesia untuk memperkuat resiliensi desa. . Meskipun memiliki toleransi yang tinggi, tantangan di akar rumput tetap ada. Faktor geografis di wilayah pegunungan, ketergantungan petani sayur pada harga tengkulak, serta pengaruh intoleransi dari media sosial membuat program DDB ini menjadi sangat krusial.


Toleransi yang ada di Desa Buntu tidak boleh sekadar menjadi kebiasaan tak tertulis. Kehadiran DDB membantu meresmikan dan memperkuat sistem deteksi dini terhadap konflik di desa ini. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Suwoto selaku Kepala Desa Buntu, “DDB ini penting sebagai sistem deteksi dini untuk mencegah terjadinya kekerasan pada perempuan dan anak di Desa Buntu. Dengan adanya DDB, terdapat wadah yang menampung keluhan serta aduan masyarakat yang dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah desa.”


Melalui program ini, dibentuklah Tim Tangguh yang anggotanya terdiri dari perwakilan keempat agama dengan keterwakilan perempuan sebesar 50%. Tim Tangguh menjadi wadah penting untuk mendorong partisipasi dan kepemimpinan perempuan dari berbagai kelompok agama untuk saling bertemu dan berdialog. 


Saat ini, sudah ada tiga mitra yang bekerja sama dengan Tim Tangguh terkait inisiatif desa, yaitu Nestle, Millenials Empowerment, dan Universitas Surya Global Yogyakarta.  Kemitraan dengan Millenials Empowerment yang didanai oleh Nestle mengadakan beberapa kegiatan di desa Buntu dengan menggandeng Tim Tangguh dan SP dalam kegiatan nya. 
Adapun dukungan  yang diberikan berupa berbagai kegiatan seperti: penanaman 100 pohon untuk menanggulangi erosi, tanah longsor dan banjir; pelatihan pembuatan souvenir desa yaitu membuat keripik kentang varian rasa dan Kokedama; revitalisasi Perpustakaan Desa dengan penyaluran 1000 buku baca; pemberian paket belajar kepada siswa SD 1 Buntu dan SD 2 Buntu; hingga lomba 17 Agustus dan Makan bersama Warga.


Sedangkan kemitraan dengan Universitas Surya Global Yogyakarta yaitu Penanaman Ubi Yakon sebagai bahan baku teh dan sirup alami untuk pengobatan Diabetes Melitus (DM). Dalam kegiatannya melibatkan anggota SP dan tim tangguh, dimulai dari proses penanaman dan pemeliharaan tanaman ubi yakon. Saat ini masih menunggu kegiatan untuk proses pelatihan pengolahan ubi yakon dan digital marketing pemasaran produk.


Bapak Panggung Dwi Kuncoro, selaku Kepala Dusun Buntu sekaligus Ketua Tim Tangguh, menyebutkan bahwa sebelumnya belum ada kelompok yang menyatukan para tokoh agama secara menyeluruh—baik perempuan, laki-laki, remaja, maupun lansia. “Yang dibutuhkan masyarakat Buntu adalah paguyuban yang benar-benar merepresentasikan keterwakilan lintas kelompok berbeda disertai kegiatan pertemuan rutin,” ungkap Bapak Panggung. Melalui DDB, paguyuban lintas kelompok ini akhirnya resmi terbentuk.


Perempuan di Desa Buntu memegang peran penting dalam program DDB ini. Keterlibatan mereka dalam Tim Tangguh memastikan suara perempuan dihadirkan, didengar, diadopsi, dan dijalankan. Tim Tangguh sendiri beranggotakan unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PKK, serta kelompok-kelompok dari keempat agama yang ada.
Salah satu inovasi konkretnya adalah melalui Sekolah Perempuan Perdamaian (SP) yang diberi nama “Lentera Bhinneka” yang didirikan pada Oktober 2024.  Nama ini membawa harapan besar agar sekolah yang beranggotakan keberagaman agama ini mampu memberikan sinar kekuatan, saling menerangi, dan membawa manfaat yang luas bagi sesama anggotanya maupun masyarakat Desa Buntu secara keseluruhan.


Pemerintah Desa memberikan dukungan penuh Program Desa Damai Berkelanjutan melalui penerbitan Surat Keputusan (SK) kepala Desa untuk indikator-indikator DDB tersebut. Saat ini, Desa Buntu telah berhasil memenuhi 10 Indikator Desa Damai. Indikator -Indikator nya adalah:


(1) Perdes Perlindungan Perempuan dan Anak dengan dengan nomor SK 8 Tahun 2024 . 
(2) Sistem dan Mekanisme Penanganan Kekerasan (agama, radikalisme, Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). 
(3) Ekonomi desa berbasis koperasi, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di desa Buntu saat ini proses pembangunan fisik sudah 100%, dengan pengurus hampir 90% adalah perempuan. 
(4) Pendidikan Kristis Perempuan, dengan dibentuknya Sekolah Perempuan “ Lentera Bhinneka” dengan SK No. 143/12/ SPP/2024 dengan anggota sekolah perempuan sekitar 36 orang keterwakilan dari keempat agama yang ada di desa ini. 
(5) Forum Aspirasi Perempuan, pemerintah dengan menfasilitasi ruang partisipasi publik perempuan dengan menerbitkan SK No. 143/11/Kep.FAP/2024. 
(6) Paguyuban Lintas Kelompok yang diberi nama Manunggal dengan SK No. 143/13/Kep. PLK/2024 sebagai wadah keberagaman elemen masyarakat di desa ini. 
(7) Festival Budaya Merawat kebersamaan dan Lingkungan, festival 2 tahunan yang diadakan di desa Buntu, akan dilaksanakan di tanggal 30 Juni-3 Juli 2026. Festival ini nantikan akan menjadi bagian kegiatan besar di desa Buntu yang menyatukan semua kelompok agama, dan semua lintas generasi dalam merawat budaya dan lingkungan yang ada di desa ini. 
(8) Forum Anak dengan SK No.143/14/FA/XII/2024, forum anak yang dibentuk di desa Buntu saat ini berkegiatan untuk posyandu Remaja, penyampaian informasi tentang kesehatan remaja, serta edukasi terkait tindakan perudungan ( antibullying) di remaja. 
(9) Digitalisasi Informasi, informasi tentang desa Buntu sekarang bisa di akses melalui website buntu.desacantik.id , maupun media sosial desa Buntu seperti Instagram Desa Buntu, PKK Desa Buntu. 
(10)Tanggap Bencana dan Adapsi Iklim, dengan SK No. 9 tahun 2024, dengan anggotanya merupakan bagian dari anggota tim tangguh. 


Program DDB yang ada di Desa Buntu menjadikan Buntu sebagai salah satu desa percontohan yang ada di Kecamatan Kejajar maupun Kabupaten Wonosobo, dimana apabila program DDB ini menciptakan sinergitas dan kemanfaatan yang baik dapat diadopsi oleh desa-desa lain yang ada di Wonosobo. 
Kemajemukan yang melekat pada Desa Buntu menjadi modal sosial yang sangat berharga. Masyarakat yang sudah saling menghargai, sikap toleransi yang tinggi menjadikan program DDB ini tidak sulit untuk diterapkan di Desa Buntu. Akan tetapi ancaman maupun hambatan juga tetap ada.Pengaruh media sosial yang biasanya menyasar generasi muda dapat mempengaruhi program yang dijalankan. Perlu adanya regenerasi dalam program DDB ini dengan mengikutsertakan generasi muda yang secara aktif terlibat didalamnya. 


Tantangan dalam program DDB adalah manajemen waktu, seperti misalnya S P yang ada di desa ini mayoritas beranggotakan ibu rumah tangga dimana memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti kelas. Perempuan sibuk dengan kegiatan domestik yang tidak ada habisnya, membuat anggota SP yang datang di kelas reguler semakin berkurang. Kemudian dalam proses pelaporan, maupun dokumentasi digital masih bertumpu pada ketua maupun fasilitator. 
Untuk mengatasi tantangan tersebut, disepakati waktu yang dimungkinkan semua anggota SPbisa mengikuti kelas, seperti kelas reguler diadakan bersamaan dengan  kegiatan PKK desa yg dilakukan rutin setiap bulan. Kemudian diikutkannya anak muda  dalam kegiatan DDB yang ada di desa Buntu beserta pendampingan kepada ibu-ibu dalam proses pelaporan maupun pendokumentasian kegiatan.


Keberadaan DDB di Desa Buntu, dan Tim Tangguh yang telah terbentuk selama 2 tahun ini telah berhasil membangun praktik kolaborasi dengan beberapa mitra yang berkegiatan di desa. Proses kolaborasi ini menjadi ruang belajar bersama yang konsisten mengasah kapasitas tim dalam mengelola organisasi. 


Praktik baik yang dipelajari dari adanya DDB ini bahwa toleransi yang ada di desa Buntu perlu dirawat dan dijaga serta diteruskan kepada generasi muda dan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk perlu dilembagakan secara struktural. Pencegahan konflik bukan berarti menunggunya terjadi. Pencegahan justru dilakukan sedini mungkin dengan memperkuat resiliensi masyarakat akar rumput untuk perdamaian yang berkelanjutan. 

Category: Cerita Perubahan

Related Articles